Lampung Utara LGNews.com – Menjelang keberangkatan musim haji tahun 1447 H/2026 M, Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Lampung Utara menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) intensif bersama 55 petugas Ketua Rombongan (Karom) dan Ketua Regu (Karu). Selasa (7/4/2026).
Kegiatan ini bertujuan untuk memantapkan kesiapan teknis dan mental para petugas dalam mendampingi ratusan jemaah asal Bumi Ragem Tunas Lampung.
Kepala Kantor Kemen Haji dan Umrah Lampung Utara, Feryza Agung, dalam arahannya menekankan pentingnya kewaspadaan ekstra mengingat kondisi geopolitik global yang dinamis saat ini. Ia meminta para petugas untuk tetap fokus pada pelayanan dan tidak terpengaruh oleh isu-isu luar yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah.
Dalam kesempatan tersebut, Agung menjelaskan bahwa pihaknya akan melakukan koordinasi intensif dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Utara terkait lokasi titik kumpul pemberangkatan.
“Sesuai jadwal, jemaah sudah harus diterima di Asrama Embarkasi Rajabasa, Bandar Lampung, pada 3 Mei 2026 pukul 14.15 WIB. Setelah melalui proses pemeriksaan X-Ray dan administrasi, mereka akan diterbangkan menuju Madinah pada 4 Mei 2026,” ujar Agung usai rapat.
Lebih lanjut Agung menjelaskan, Saat tiba di embarkasi, setiap jemaah akan menerima, Identitas resmi jemaah, Paspor dan Alat Pelindung Diri (APD) untuk menjaga kesehatan selama di Tanah Suci.
Untuk musim haji tahun ini terang dia, Kabupaten Lampung Utara mengirimkan 441 jemaah yang tergabung dalam Kloter 15. Jemaah ini merupakan gabungan dari dua kabupaten dengan rincian, Lampung Utara 401 orang dan Lampung Timur 40 orang.
” Kondisi jemaah cukup beragam, mulai dari lansia, kategori risiko tinggi (resti), hingga berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan. Sebagai informasi tambahan, keberangkatan perdana (Kloter 1) untuk wilayah Provinsi Lampung akan dimulai pada 25 April 2026 yang diawali oleh jemaah asal Bandar Lampung.” Kata Agung.
Kepada 55 petugas Karom dan Karu, Agung memaparkan tugas krusial yang harus diemban, mulai dari pendataan skema Murrur, pengurusan Badal Lontar Jumrah, hingga pemantauan Nafar Awal dan Tsani serta pelaksanaan Dam Nusuk.
Agung berpesan, agar para petugas senantiasa menjaga kekompakan dan rutin melakukan konsolidasi, terutama saat fase krusial di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Petugas diminta melakukan mitigasi dan simulasi jika ada jemaah yang tersesat serta memastikan titik kumpul yang jelas.
Disamping itu juga Agung berharap, dengan dedikasi petugas dalam menjaga jemaah agar terhindar dari perbuatan Rafats, Fusuq, dan Jidal, seluruh jemaah dapat pulang ke tanah air dengan predikat haji yang mabrur dan mabruroh.
“Tugas Karom dan Karu adalah tugas pengabdian yang mulia dan bersifat sukarela. Kunci keberhasilannya terletak pada komunikasi yang sabar dan ketelitian. Tanah Suci akan sangat padat dan menuntut fisik prima,” tegasnya. (Diq).









